Papaku, Seorang Blogger

Ceritanya bulan Oktober nanti ada yang namanya Hari Blogger Nasional, tepatnya tanggal 27 Oktober. Hari Blogger Nasional ini dicanangkan pertama kali 14 tahun lalu, tepatnya di tahun 2007 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Muhammad Nuh pada Pesta Blogger tahun itu. Harusnya tulisan ini ditulis bulan depan nih, tapi ya karena baru kejadian yah, kita tulis hari ini saja.

Well, kata ‘blogger’ sendiri sih masih agak asing di telinga saya. Saya sudah cukup lama membuat blog pribadi, untuk pertama kalinya sekitar 13 tahun yang lalu. Tapi kemudian saya vakum dalam menulis selama bertahun-tahun, sampai awal tahun ini saya mulai menulis di blog lagi. Selain mulai menulis karena di’racuni’ si sepupu RN, saya juga mendapatkan tambahan semangat setelah bergabung di dalam dua komunitas menulis: KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional), dan MGN (Mamah Gajah Ngeblog).

Meskipun demikian, rasanya masih aneh, sungkan, dan gak pas untuk pasang embel-embel ‘blogger’ di belakang nama saya. Blogger sebagai sebuah profesi atau identitas belum menjadi sesuatu yang bisa saya ‘akui’. Ya, saya suka menulis. Ya saya punya blog. Tapi apakah saya seorang blogger?

Ok, merujuk ke kamus, Merriam-Webster mendefinisikan blogger sebagai: a person who writes for and maintains a blog. Jadi sebenarnya, saya sudah lumayanlah ya, bisa dimasukkan dalam kategori sebagai seorang blogger. Tapi mungkin karena saya mengerjakannya on off, dan juga merasa diri ini bukan seorang penulis profesional, jadi saya tetap ngotot kalau saya bukan seorang blogger, hehehe.

Kejutan kemarin malam

Nah, ceritanya saya dan RN sedang ngobrol-ngobrol via whatsapp, ngalor ngidul ke sana kemari. Somehow, kita ngobrol soal tulisan, blog, dan Facebook Page. Saya pun berseru kalau Papa saya punya Facebook page yang sudah ada beberapa ratus followernya dan saya sudah dijadikan admin oleh beliau tapi belum pernah saya follow up.

RN pun bertanya memangnya Papa saya punya blog? Iya, jawab saya. Beliau menulis beberapa blog. Tapi di mata saya (kemarin, kalau hari ini pandangan saya tentang Papa jadi lain), Papa ini kurang fokus, agak terlalu random seperti anaknya ini. Jadi kayaknya ada beberapa blognya. (Dan di bayangan saya, blog-blog kepunyaan Papa ini mestinya ya setengah-setengah jalan kayak blog anaknya juga dong😅).

Karena saya anak kurang berbakti, jadi saya pun tidak tahu apa alamat blog Papa. 🙈 Tapi untung oom Google selalu mengulurkan tangannya di saat kita membutuhkan bantuan. Jadi mulailah bermunculan nama Papa, di dalam beberapa blog yang berbeda.

Bukan blog biasa

Dengan sikap yang cukup skeptis, saya membuka salah satu dari mereka. Artikel pertama yang muncul dengan nama Papa di situ malahan adalah sebuah postingan berita lokal soal orang Batak. Nama Papa tercantum di situ karena artikel itu bercerita soal Oppung saya (kakek, ayah dari Papa saya), yang konon menurut si artikel adalah salah satu tokoh yang tidak malu menyebut diri sebagai orang batak. Oppung saya ini adalah salah satu pendeta perintis gereja di lingkungan adat Batak Simalungun.

Kok bisa ya ada artikel seperti ini. Rasanya nampar-nampar banget dibaca oleh saya, cucunya yang di dalam banyak kesempatan, sering pura-pura bukan batak 🙈

Nah, balik lagi ke pencarian blog milik Papa saya, saya pun terus mencari yang mana blog yang asli punya beliau. Mata saya tertumbuk pada sebuah blog yang bertema Renungan Harian (pengantar membaca Alkitab) dalam bahasa Batak Simalungun. Oh well, OK. Saya melihat blog stats nya sudah sampai 35.000 hits. Oh, wow.

Lalu saya menemukan blog lain – Alkitab dwi bahasa, bahasa Batak Simalungun dan bahasa Indonesia. Saya pun mulai terdiam. Kaget. Kaget seribu bahasa. Blog ini isinya Alkitab – seluruh Alkitab. Dan Papa pun menyajikan setiap ayat di dalam dua kolom dengan rapi – di sebelah kiri bahasa Simalungun, di sebelah kanan bahasa Indonesia.

Rapi jali begini, berapa lama membuatnya??

Wait, wait, bisa gitu bikin kolom di wordpress? Pikir saya bingung. Pengetahuan saya soal wordpress dan excel yang sangat minim membuat saya tercengang menyaksikan blog Papa. Sampai ada daftar isinya. Wow. Ini bukan app lho, ini cuma blog biasa. Tapi bisa rapi jali gitu menatanya.

Lalu saya ingat dahulu kala Papa pernah cerita bahwa beliau sedang mengerjakan proyek blog terjemahan sebuah buku renungan setahun karya Oswald Chambers yang sangat terkenal: My Utmost For His Highest. Buku renungan ini adalah buku renungan literasi klasik yang dipakai jutaan orang di dunia. Rasanya sudah ada versi bahasa Indonesianya, tapi toh Papa punya visi membuat buku ini available online supaya bisa dijangkau banyak orang.

Jadi saya google lah judul buku itu… dan ketemu dong blog Papa nomor 3. Dan pas sekilas melirik ke kanan, terlihat lah kalau blog stats-nya sudah 245 ribu hits. What??? Hahahaha… total saya speechless, kaget, dan bingung. Blog saya yang baru sampai 700 hits saja sudah bikin hati gembira. Not that I care much about statistics – tapi ratusan ribu hits itu buat saya luar biasa, untuk seorang ayah yang bahkan saya nggak ngeh apa alamat blognya (seriously, saya anak durhaka!😭)

Ternyata Papa saya seorang blogger! Buat saya yang menganggap istilah blogger itu hanya boleh diberikan pada orang yang serius menekuni dunia blog, saya rasa Papa saya pantas menyandang embel-embel ‘blogger’ di belakang namanya. Either sebagai hobby, atau profesi.

Seorang bapak yang tekun

Setelah kaget, terpana, lalu terbahak-bahak menceritakan penemuan saya ini kepada RN yang sedang ngobrol dengan saya, kami pun melanjutkan pencarian. Sampai hari ini, satu hari kemudian, total blog Papa yang saya temukan ada lebih dari 10 buah. Hampir semua terisi penuh.

RN bertanya, “Sebenarnya, Makela (paman dalam bahasa Batak Simalungun) itu berapa jam sehari di belakang komputer? Kok bisa segitu banyak karyanya?” Saya menjawab, “Kayaknya melebihi jam yang dihabiskan suamimu yang adalah programmer.”

Mungkin agak hiperbola, tapi ya Papa saya adalah orang yang sangat tekun. Kakek saya adalah orang yang lebih-lebih lagi super tekun. Menurut Papa, beliau hanya mewarisi 20 persen ketekunan ayahnya. Tapi buat saya, Papa saya adalah orang yang sangat tekun.

Papa tidak pernah terlihat bengong, beliau selalu punya sesuatu untuk dikerjakan. Setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai abdi negara di umur 55 tahun, Papa lanjut bekerja di sebuah konsultan swasta sampai beliau genap berusia 65 tahun. Sewaktu Papa masih aktif berdinas, beliau juga aktif di dalam beberapa komunitas, seperti gereja, perkumpulan keluarga dan orang-orang semarga, di lingkungan warga, dan sebagainya.

Meskipun Papa saya sangat sibuk, tapi dia juga cukup ‘hadir’ di rumah kami. Beliau tidak segan untuk turun tangan memasak, mengepel atau bahkan menyikat kamar mandi. Buat beliau, waktu luang itu dimanfaatkan untuk hal yang ada gunanya. Hampir tidak pernah kami melihat Papa duduk-duduk menonton teve. Kalau tidak menulis, ya membaca. Kalau tidak keduanya, ya mengepel rumah.

Papa tidak banyak bicara. Dia damai dengan dunianya, dengan kesibukannya, tapi juga dengan cintanya pada Mama saya. Tetapi bukan sekali dua kali Mama membuat Papa harus memilih: komputer atau aku? Hahaha, tapi Mama paham sekali dan juga merasa senang karena Papa bisa menghadapi masa pensiunnya dengan sebuah ‘kepenuhan’. 

Post power syndrome yang dikhawatirkan oleh Mama bisa kejadian bilamana Papa harus berhenti bekerja ternyata tidak terjadi. Papa saya sudah menemukan passion-nya: menulis dan berbagi informasi. Terbukti di dalam 11 tahun terakhir semenjak beliau betul-betul stop bekerja di kantor, Papa sudah menulis begitu banyak, yang tersebar di dalam blog-blog beliau.

Tidak pernah berhenti belajar

“Kita perlu belajar untuk selalu belajar,” begitulah kira-kira nasehat Papa kepada saya. Nasehat yang beliau sendiri lakukan setiap hari. Di saat kami masih sekolah dan membutuhkan biaya untuk uang sekolah dan les tambahan, beliau mencukupkan diri belajar bahasa Inggris secara mandiri. Betapa sebenarnya Papa ingin pergi les di Lembaga Indonesia Amerika, 30 tahun yang lalu. Tapi beliau mengalah demi masa depan anak-anak. 

Belajar untuk selalu belajar

MAP

Tapi dengan ketekunannya, Papa termasuk sedikit dari pegawai di kantornya yang menguasai bahasa Inggris secara aktif. Sering sekali beliau ditugaskan ke luar negeri ataupun mendampingi utusan asing karena kemampuannya ini.

Di waktu PC (personal computer) masih menjadi barang langka, Papa membujuk Mama membeli komputer untuk kami gunakan di rumah. Dengan komputer ini dia dengan tekunnya belajar bahasa pemrograman sendiri. Segala urusan pembuatan dokumen di Word, database di Excel ataupun presentasi beliau pelajari sampai tingkat yang membuat orang menganga. Dua puluh tahun lalu, saya lulus dari salah satu sekolah tinggi paling baik di Indonesia dengan kemampuan Excel dua ribu persen di bawah kemampuan Papa 😆

Ternyata gairah Papa untuk belajar menyala terus sampai sekarang. Kalau anaknya yang satu ini untuk memulai blog menggunakan WordPress saja masih pakai jasa bantuan profesional sang sepupu RN, Papa mengulik-ngulik sendiri segala macam blog, sampai bisa membuat tampilan dan menu yang dia butuhkan.

Going the extra mile

Papa selalu melakukan segala sesuatu dua kali lebih jauh dibanding yang diminta orang lain. Ketika beliau ditunjuk menjadi Sekretaris gereja 30 tahunan yang lalu, pengumuman yang biasanya hanya diumumkan secara lisan dia susun dalam bentuk buku: Warta Jemaat.

Hobby papa adalah menyusun database. Beliau mengumpulkan segala data anggota gereja, alamat, tanggal lahir, susunan keluarga dan sebagainya dan menyusun sebuah database yang solid. Papa juga mengumpulkan data keluarga besar – sampai dua atau tiga generasi di atasnya dan membuat Family Tree, lengkap dengan segala tanggal lahir, tanggal menikah dan lain sebagainya.

Sampai-sampai, tidak lama setelah saya menikah dengan pak suami, Papa punya data dan susunan keluarga mereka – secara lengkap! Hal yang bahkan keluarga suami pun tidak pernah betul-betul tuliskan!

Papa betul-betul menghidupi perintah Tuhan: Siapa yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Matius 5: 41, TB). Going the extra mile and giving the best – dia melakukannya seakan-akan bukan untuk manusia yang dia layani, tetapi untuk Tuhan.

Didorong rasa cinta

Seorang pendeta pernah berkata di dalam khotbahnya, “Pelayanan yang baik dimulai dari sebuah kebutuhan.”

Setelah menyelidiki jumlah blog Papa yang banyak itu, kami (saya dan RN) mengamati kalau tulisan Papa berkisar dalam dua topik besar: pemberitaan Firman Tuhan dan bahasa Simalungun. Pengalaman dikasihi oleh Tuhan membuat Papa saya selalu rindu untuk berbagi berita tentang kasih Tuhan kepada semua orang. Bila hal ini tidak selalu mudah untuk dilakukan secara langsung, beliau berharap lewat tulisannya dia boleh menyapa orang lain di dalam kasih Tuhan.

Kecintaan Papa saya kepada akar dimana dia berasal – tanah Simalungun membuat beliau pun merasa terbeban untuk berbagi tentang bahasa dan budaya Simalungun melalui wadah internet. Blog Papa seperti Alkitab bahasa Simalungun dan Indonesia, kumpulan lagu gereja Simalungun dilengkapi versi lagu berbahasa Indonesianya bila ada, lalu juga ada blog kamus bahasa Simalungun – Indonesia.

Semua blog ini adalah sebuah wujud kerinduan Papa untuk melestarikan budaya dan bahasa Simalungun. Lewat blog-blognya, Papa saya berharap bisa memperkenalkan Simalungun kepada setiap orang, dan juga menjangkau generasi muda yang banyak semakin menjauh dari budaya dan bahasa Simalungun. Termasuk saya, hehehe. Sampai-sampai Papa menulis di dalam kolom About-nya, bahwa kamus yang beliau susun didedikasikan kepada anak-anaknya yang karena kelalaian beliau tidak secara aktif diajarkan bahasa ibunya, bahasa Simalungun 😭

Usaha Papa mengenalkan Simalungun melalui blog dan tulisan di internet ini bisa dibilang sebagai one man show alias sebagai pejuang tunggal. Kerap kali beliau bercerita tentang visinya kepada generasi yang lebih muda, kami anak-anak dan keponakan, yang bahkan sebenarnya bergelut di bidang teknologi. Juga kepada orang Simalungun lainnya dengan harapan bahwa usahanya bisa berkembang. Jangan sampai budaya dan bahasa Simalungun menjadi hilang dan tidak tercatat.

Tapi sayang tidak ada yang serius menanggapi usulan Papa – termasuk saya, anaknya sendiri yang bahkan nggak tahu persis apa saja alamat blog beliau 😰 Karena itu di dalam diamnya yang tenang, Papa terus dengan tekun bekerja. Papa punya prinsip, yang penting kerjakan semaksimal mungkin. Komentar dan reaksi orang tidak mempengaruhi keinginannya untuk memberikan hasil terbaik. Dari beliau pula saya belajar untuk tidak reaktif, tidak mudah terganggu dengan sikap orang lain terhadap pekerjaan kita.

Meneruskan legasi

Penemuan saya dan RN akan pekerjaan Papa membuat kami berdua tercengang dan juga tersadarkan betapa berharganya segala catatan yang sudah dikumpulkan oleh Papa. Bersama RN dan suami beliau yang merupakan ahli di bidang teknik Informatika, kami bersepakat untuk bersama-sama berusaha mengumpulkan, mendokumentasikan dan juga meneruskan pekerjaan Papa.

Bagi saya pribadi, meneruskan pekerjaan beliau adalah sebuah kehormatan dan kebanggan yang besar. Saya berharap bisa lebih lagi mengenal Papa melalui tulisan dan kumpulan dokumentasi yang dibuatnya. Di usianya yang hampir 80 tahun, Papa menunjukkan kepada saya bahwa semangat dan ketekunan ternyata tidak pernah terbuang percuma.❤

Papa terinspirasi pada semangat dan ketekunan Oppung alm, aku terinspirasi semangat dan ketekunan Papa

In all gratefulness, I’m so humbled and yet so proud of you, Pap! Semoga aku bisa semakin tekun ya, jadi seperti Papa. Belajar untuk terus belajar, and going the extra mile!❤❤

13 comments

  1. hayoloh disuruh belajar bahasa Simalungun loh! Hehehe.. aku juga perlu belajar nih, jadi apakah kita akan menulis blog dalam bahasa Simalungun ? Heheheh…

    Like

  2. Wah berarti bakat nulis menurun nih. Aku suka sih semangat orang yang sdh berumur untuk belajar dan nulis gini. Ikutan dong mbak nanti nulis sampai berumur 🙂

    Like

  3. Tadi aku baru mampir dari blog Risna, ternyata Om yang diceritakan papa-nya DIP ya. Kagum banget banget, semoga Om selalu sehat dan bisa terus berkarya.

    Going extra mile, betul banget ya, makasih sharing ceritanya, inspiring.

    Like

  4. Kagum banget sama Oom. Apalagi tujuan menulisnya adalah dedikasi untuk anak-anaknya sendiri. Bukan masalah monetisasi dan eksistensi. Jadi pengen ngeblog kaya papahnya teteh.

    Like

  5. Wah, keren sekali papanya ya. Sampai di usia yang sudah senja tetap terus produktif. Menginspirasi sekali teh. Sehat-sehat terus ya teh papanya. 😊😊😊

    Like

  6. Inspiratiiiif!! Hebat sekali papahnya ♥ semoga papahnya sehat selalu dan semangat terus berkarya yaa.. Pasti makin semangat sih, apalagi tau anak dan ponakannya mau bergabung berkarya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s