Bahasa, Jurang dan Jembatan Hubungan Kita

Hallo semua! Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya berbahasa. Dalam rangka merayakan Hari Aksara Internasional alias International Literacy Day, emak-emak MGN mengajak kita semua untuk mengikuti Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang   bertema “Pengalaman berbahasa seumur hidup”.

Mengutip website Unesco, Hari Aksara Internasional dirayakan setiap tahunnya sejak tahun 1967 dengan tujuan untuk mengingatkan publik akan pentingnya kemampuan membaca dan menulis (literacy) sebagai bagian dari kehormatan dan hak asasi manusia. Hari ini juga dirayakan sebagai usaha untuk memajukan tingkat literasi (melek huruf) masyarakat sampai tahap yang berkelanjutan.

Ya, tentu dong literacy yang diartikan di sini sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis tiada artinya kalau tidak diiringi dengan pengertian dalam berbahasa. Sebagai contoh, waktu saya kelas dua SMP saya pergi berlibur ke Bali dengan keluarga sahabat Mama saya. Keluarga ini mengajak juga dua remaja Korea untuk pergi bersama.

Selama beberapa minggu di sana, saya diajari mereka membaca dan menulis huruf Korea. Kemampuan yang sampai sekarang masih 90 persen saya ingat. Jadi jauh sebelum Lee Min Ho menebar pesonanya di layar kaca, saya sudah bisa baca dan tulis huruf Korea lho!🤓

Tapi apalah artinya karena pada dasarnya saya nggak ngerti apa-apa. Sempat meminjam buku-buku dasar bahasa Korea dari si Oom yang pernah dinas di sana. Tapi ya namanya anak SMP belajar bahasa asing secara mandiri ya nggak sampe kemana-mana.

Seperti inilah mengapa mengerti sebuah bahasa itu penting. Bukan hanya bisa meniru menulis atau bahkan membacanya saja. Bahasa adalah sebuah metode dasar manusia untuk berkomunikasi. Kemampuan menggunakan bahasa bagaikan sebuah jembatan membuat kita bisa berhubungan dengan baik dengan orang lain. Sebaliknya ketidakpahaman kita membuat jurang yang bisa berujung dengan kesalahpahaman, atau bahkan pertengkaran.

Bahasa Inggris

Seperti jutaan penduduk Indonesia lainnya, bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama yang saya pelajari. Jaman dulu belum ada pelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar. Baru di SMP saya mulai secara resmi belajar bahasa Inggris di sekolah.

Saya ingat waktu itu orangtua saya memutuskan kalau saya perlu mengambil les tambahan untuk bahasa Inggris. Mereka mengutus saya untuk pergi sendiri ke Alfa English Course, satu-satunya lembaga kursus bahasa Inggris di daerah Depok 30 tahun yang lalu, yang belum berkembang seperti sekarang.

Sebenarnya saya sudah pernah kursus bahasa Inggris ‘just for fun’ dengan ibu Mien, tetangga rumah kami yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris. Cuma ya namanya les gitu-gitu aja, jadi rasanya entah ada yang nempel atau tidak kosa katanya. 

Karena itu waktu si guru di Alfa ini bertanya sudah pernah les apa belum sebelumnya, dengan sok pedenya saya jawab iya. Wah, ternyata gara-gara jawab iya, saya jadi didaulat untuk langsung melakukan placement test – untuk menentukan saya bisa mulai di level apa.

Saya pun digiring masuk ke sebuah ruang kelas yang kosong, diberikan kertas ujian dan ditinggalkan di sana sendirian. Mata saya langsung berkunang-kunang melihat soal-soal yang tertera di kertas itu. Di bagian kiri atas halaman ada tulisan Name:________ dan Date:_______. Lalu di bawah ada sederet soal pilihan ganda.

Saya pun hampir menangis. Antara gugup dan ketakutan, dan nggak ngerti ngeliat kertas yang penuh dengan kata-kata berbahasa Inggris (gak ada bahasa Indonesianya sama sekali. Ya iyalah, namanya juga ujian bahasa Inggris, haha). Entah alasan apa yang saya karang waktu itu, saya pamit pulang.🤭

Di rumah saya menangis cerita kepada Mama saya bahwa saya tidak bisa mengerjakan ujiannya. Aku nggak ngerti sama sekali, Ma. Ada date date (baca: da-te da-te). Aku nggak tahu da-te itu apa. Abang saya pun terbahak dan menjawab, “Date! Date! Tanggal!” Ya amplop, boro-boro ngisi yang lain, da-te aja nggak ngerti! Hahaha😆😆

Berakhir mumpuni

Beberapa minggu setelahnya saya kembali datang kembali ke gedung ruko ini dan mendaftar untuk les di level yang paling awal. Supaya tidak perlu lagi ujian dengan kertas yang ada tulisan da-te da-te nya. 🙈 Dan kali ini saya dikawal oleh Mama, supaya tidak terlalu stress, supaya tidak kabur, dan bisa ditraktir makan empek-empek setelahnya.

Tapi ternyata dari titik itu kemampuan bahasa Inggris saya maju cukup pesat. Selain jadi anak yang paling menyebalkan buat teman-teman sekelas karena ngomong melulu (ya nanya, ya jawab), saya secara aktif mulai menggunakan bahasa Inggris di dalam kehidupan sehari-hari.

Saya suka membeli majalah Reader’s Digest (kayak majalah Intisari jaman dulu) dalam bahasa Inggris di toko buku di Stasiun Gambir. Lalu menulis diary dengan bahasa Inggris. Menulis puisi, sajak, dan segala kekonyolan soal jatuh cinta dan patah hati.

Saya lanjut les bahasa Inggris sampai waktu saya duduk di bangku SMA dan kuliah. Dan terus menulis dalam bahasa Inggris. Terbukti di tingkat TPB saya mendapat nilai straight A untuk mata kuliah bahasa Inggris. Dan harus mengulang mata kuliah bahasa Indonesia di semester berikutnya. 😅

Singlish

Namun demikian, bisa berbahasa Inggris di Indonesia sama sekali tidak menjamin untuk lancar menggunakan bahasa itu di negara lain. Aksen, bahasa utama, dan pola pikir orang di sebuah negara sangat mempengaruhi pengertian berbahasa. Bisa saja ada dua orang sama-sama berbahasa Inggris and yet mereka ternyata tidak berbicara dengan bahasa yang sama.

Untuk anak dari keluarga menengah gak sampai di atas, tidak pernah terbayang kalau saya akan bisa pergi ke luar negeri. Meskipun ayah saya sudah beberapa kali dinas di luar negeri, tapi saya tahu bahwa dengan dana sendiri saya tidak akan pernah bisa terbang ke sana. Plus raport kuliah saya yang biasa-biasa saja membuat saya tidak terpikir untuk ambil beasiswa di luar Indonesia.

Namun hidup membawa saya merantau lebih jauh. Tahun 2006 saya berangkat untuk mencari kerja di Singapura. Bekerja dan tinggal di negara yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa resmi ternyata tidak semudah dugaan saya. Adanya “Singlish” (sebuah bahasa bentukan campuran bahasa Inggris, bahasa Melayu dan Cina) plus aksen orang-orang di Singapura yang kental dengan logat Cina-nya membuat bahasa Inggris bukan lagi bahasa yang mudah dimengerti!

Minggu-minggu pertama saya bekerja di sebuah konsultan, saya harus bekerja keras untuk mengerti apa yang dikatakan atasan saya selama dia menjelaskan sebuah proyek. Suatu hari dia sambil menggambar ngomong panjang lebar, “Here is the kapak.. Kapak.. Kapak…” Heh? Apa sih kapak kapak? Kapak Sakti Naga Geni? 🧐

Setelah sekian lama tidak paham juga, saya memberanikan diri untuk menyela pembicaraan dan bertanya apa arti kapak. “Kapak? Yu not understand kapak ha? You akitek en don’t now kapak ah?” sergah si cici kesal. “Yes, can you please write down what kapak is?” jawab saya takut-takut.

Beliau pun dengan kesal menulis di kertas: car park. Oooooohhhh car park, ujar saya penuh kelegaan. Saya pun sempat berpikir kapak ini unsur arsitektur yang mana kok saya sampe nggak tahu… jangan-jangan karena dulu kuliah suka mabal nggak tahu kapak. Kalau car park sih saya tahu hihihihi. Sejak itu positif lah si senior sebal sama saya 😆

Empat tahun tinggal di Singapura juga tidak membuat saya bisa bahasa Cina ataupun Melayu. Ada banyak kata-kata di bahasa Indonesia yang ternyata tabu di dalam bahasa Melayu jadi saya memilih untuk bicara dalam bahasa Inggris saja.

Di saat yang sama, kosakata bahasa Cina saya pun tidak bertambah sama sekali. Teh-peng, teh-o-peng, kopi-o-kosong terdengar seperti sebuah sandi rahasia yang tidak pernah bisa saya pecahkan – apalagi gunakan (baca juga: bagaimana memesan minuman di kopitiam).

Bahkan setelah setengah tahun mengikuti les bahasa Cina di balai rakyat di daerah tempat tinggal saya tidak mengubah apapun. Saya tetap tidak bisa bahasa Cina. Baik lisan maupun tulisan. Kemungkinan untuk menikahi seorang Singaporean Chinese menguap karena nyata saya tidak punya bakat belajar bahasa.

Bahasa Belanda

Namun ternyata hidup masih terus mengajak saya pergi lebih jauh. Empat tahun tinggal dan akhirnya menyesuaikan dengan kehidupan di Singapura (meskipun cuma bisa mengadaptasi Singlish saja), saya pindah ke Belanda.

Sebagai salah satu syarat bisa berkumpul dengan suami, saya perlu lulus ujian bahasa Belanda sampai level A1. Artinya saya bisa menggunakan paling tidak 1000 kata dasar dalam bahasa Belanda, dan mengerti kalimat-kalimat pendek yang biasa digunakan sehari-hari.

Saya pun ikut les bahasa Belanda di pusat kebudayaan Erasmus Huis di Jakarta dan lulus dengan nilai sangat baik. Tetapi kenyataannya pengetahuan bahasa Belanda saya sama sekali tidak ada artinya ketika saya sampai di Belanda. Basically saya masih buta bahasa Belanda kecuali kata-kata yang sudah diserap oleh bahasa Indonesia seperti ‘gratis’, dan ‘korting’ 😄

Tahun-tahun pertama tinggal di Belanda tidak mengangkat derajat hidup saya di dalam berbahasa meskipun saya sudah ikut les lanjutan di Universitas Maastricht. Masalahnya adalah saya tidak aktif menggunakan bahasa tersebut. Pergaulan yang minim dengan orang lokal dan pemakaian bahasa Indonesia bersama suami di rumah membuat kosakata saya tetap begitu-begitu saja.

Bingung bahasa

Ketika anak-anak lahir kami tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di rumah seperti disarankan oleh dokter di Consultatiebureau (Posyandu). Sayangnya kemudian kami menemukan bahwa saran untuk menggunakan bahasa ibu di rumah akhirnya membawa masalah bagi anak kami di sekolah.

Sewaktu si sulung akan masuk sekolah dasar (umur 4 tahun) dia masih belum lancar berbicara. Baik itu bahasa Indonesia, bahasa Belanda atau bahasa apapun juga. Hanya saya ibunya yang cukup paham apa yang dia mau – pakai bahasa kalbu.

Kami pun membawa dia ke rumah sakit untuk diperiksa tumbuh kembangnya. Di sana kami mengalami banyak pengalaman tidak menyenangkan, dan si sulung pulang membawa surat keterangan dokter bahwa dia masuk di spektrum autis dan ber-IQ di bawah normal.

Berdasarkan surat ini sekolah si sulung memaksa kami untuk memindahkan dia ke sekolah luar biasa. Karena merasa keputusan sekolah dan keterangan dari rumah sakit itu kurang berdasar, kami membawa si sulung ke seorang Profesor tumbuh kembang anak. Seorang spesialis autisme.

Di sana kami mendapatkan informasi bahwa menurut si prof, si sulung ini bukan menderita autisme, tetapi terlambat bicara karena bingung bahasa. Dia juga menegaskan bahwa si sulung pasti tidak ber-IQ rendah, malah jangan-jangan tinggi – meskipun dia tidak mengetes ulang dan melarang untuk segera di-test ulang karena katanya terlalu banyak di-test itu menimbulkan trauma pada anak.

Sejak itu saya banting stir dari memakai bahasa Indonesia menjadi lebih sering memakai bahasa Belanda di rumah untuk bahasa sehari-hari. Saya juga membacakan seribu buku untuk mereka di dalam bahasa Belanda untuk memperkaya kosa kata mereka dan menolong ketertinggalan mereka dalam berbahasa Belanda.

Setelah puluhan purnama sekarang si sulung bersekolah dengan normal, lancar menggunakan bahasa Belanda. Saya pun jadi terangkat skill berbahasa Belanda-nya karena terus meladeni anak-anak berbicara. Sayangnya ya masalahnya sekarang berubah: mereka menjadi tidak bisa berbahasa Indonesia.

Dan kami orangtua punya PR maha sulit untuk berkomunikasi dengan anak. Terutama untuk mengkomunikasikan masalah perasaan, moral, mengajar tentang Tuhan. Karena hal-hal tersebut kami kuasai dalam bahasa Indonesia tetapi tidak dalam bahasa Belanda. 

Kebayang dong ada saatnya lagi tinggi-tingginya emosi si emak meledak dan ngomel dalam bahasa Indonesia dan anak-anaknya hanya bengong aja, nggak bisa 100 persen mencerna maksud mamanya. Terpaksalah diadakan siaran ulang dalam bahasa Belanda – dengan kosakata yang terbatas dan diiringi doa semoga maksud emaknya nyampe di hati sang anak.🙄🙄

Bingung bahasa juga dialami oleh kami yang sudah orang dewasa. Kemampuan berbahasa Belanda yang belum jago-jago amat, bahasa Indonesia yang digunakan hanya di lingkungan terbatas dan bahasa Inggris yang on off dipakai membuat saya sering lama terdiam kalau sedang bicara. Bingung mau bicara apa, terkadang ada kata-kata yang saya ingat bahasa Belandanya tapi nggak tahu bahasa Indonesianya dan sebaliknya.

Bahkan saya sampai merasa tidak mampu lagi menulis panjang dalam bahasa Indonesia yang baik saking jarang dipakai. Beruntung tahun ini saya masuk komunitas menulis di KLIP dan juga MGN yang memaksa saya untuk menulis kembali dalam bahasa Indonesia.❤

Penutup

Mungkin itulah sekilas resiko yang kami alami sebagai perantau. Sulit untuk mempertahankan bahasa ibu ketika ada tuntutan untuk catch up dengan kemampuan orang lokal dalam berbahasa. Dulu waktu saya masih belum ada anak mudah untuk nyinyir berkomentar kok anaknya tidak diajarkan berbahasa Indonesia sih? Tetapi ketika sudah menjalaninya ya ternyata ada dilema seperti ini.

Namun demikian masih menjadi PR dan juga kerinduan saya bahwa anak-anak tetap bisa bicara bahasa Indonesia dengan aktif. Bagaimanapun juga kami semua ini warga negara Indonesia. Keluarga kami juga semua tinggal di Indonesia. Sangat penting untuk mereka bisa tetap berbahasa Indonesia supaya tetap bisa menjaga hubungan dengan keluarga.

Kemampuan berbahasa yang baik membuat komunikasi kita dengan sesama lancar. Tetapi terkadang ya ada saja saatnya kita terpaksa harus berbicara dengan orang lain dan tidak menguasai bahasanya. Atau kita tidak memiliki kata yang tepat untuk diungkapkan kepada orang itu.

Di saat seperti itu, ada satu bahasa yang mempersatukan kita semua: ❤bahasa kasih❤. Dengan kelembutan dan cinta kasih, meskipun komunikasi terbata-bata, pastilah maksud hati kita bisa sampai kepada para pemirsa.

Jangan lupa kenakan kasih di setiap percakapan, apapun bahasa yang kita gunakan.

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

(1 Korintus 13: 1, TB)

5 comments

  1. Thank you mba sharingannya. Ngakak banget tentang “kapak” itu, relatable banget 🤣
    Oya aku jadi penasaran, anak mba yang lain akhirnya jadi diajari bilingual atau tetap 1 bahasa dulu sampai ajeg?

    Like

    • Dua anak itu cuma beda 17 bulan teh… yang kecil trus badannya kegedean, yang sulung badannya kekecilan. Jadi sejak balita mereka practically kayak anak kembar 😀 jadi diajarinnya ya sama hehehe

      Liked by 1 person

  2. Hihihi kapak kapak… Ya Ampuun. Ngakak juga aku bagian ‘date’ 😂 Ternyata banyak bahasa buat bingung si kecil ya. Ada teman yang sekolah international dan akhirnya anaknya cuma bisa komunikasi bahasa Inggris, tinggalnya tapi di Bandung tp sepertinya suka ke LN juga

    Like

  3. anak-anakku juga di rumah ngomong bahasa Inggris. Bahasa Thainya malah gak bisa, mungkin karena sekolah di rumah hehehe.. Gak apalah, kalau butuh nanti mereka belajar bahasa lainnya, asal ngerti bahasa Indonesia dan fluent bahasa Inggris sekarang ini dicukupkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s