Kumpulan Cerita Aneh bin Lucu di Jaman Kuliah

Hi semua. Siapa di sini yang suka nonton film komedi? Atau suka nonton acara lawak di televisi atau video lucu di internet. Dulu waktu kecil, saya sukaaaaa sekali baca buku “Mati Ketawa Cara Rusia” dan semacamnya. Suka ketawa-ketawa sendiri di kamar. Untungnya Mama saya sudah paham anaknya aneh, jadi tidak sempat dibawa periksa ke rumah sakit jiwa.

Kenapa ya kita manusia menyukai cerita lucu? Mungkin karena hidup ini berat. Kadang kita hanya perlu sedikit pengalihan dari hari-hari yang sulit. Karena itu para mamah dari klub menulis Mamah Gajah Ngeblog memutuskan untuk membuat tantangan menulis dengan tema “cerita lucu“ di bulan Juli 2021 ini.

Tema ini diangkat dengan harapan bahwa kita yang membaca bisa menarik nafas sejenak, melupakan penatnya terkurung di rumah selama setahun lebih karena pandemi, dan mengingat bahwa di dalam kemalangan dan ketidakberuntungan, masih ada segaris kelucuan.

Karena cerita lucu itu biasanya memalukan, sulit untuk membuat cerita lucu yang sangat panjang. Karena kalau satu kejadian saja 500 kata panjangnya, itu tanda hidup kita sangat malang 😀 karena itu saya haturkan di sini, aneka cerita lucu bin memalukan, yang bintang utamanya sayangnya adalah saya sendiri.

Awalan yang kurang mengesankan

Di kuliah perdana di jurusan, mahasiswa baru dikumpulkan dan diberikan kesempatan untuk mendapat kuliah pengantar oleh seorang profesor dari jurusan kami. 

Sang profesor memulai kuliah dengan bercerita tentang signifikansi arsitektur di kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya sebuah bangunan hampir selalu memiliki ciri khas tertentu dan bisa dipakai untuk “menandai” sebuah wilayah atau tempat.

Untuk memperjelas maksudnya, sang prof menggunakan contoh sambil bertanya kepada para mahasiswa baru dengan muka kami yang masih penuh dengan harapan. Menatap berkeliling, sang prof pun memilih… saya.

“Kamu!” ujar sang Prof. “Kamu tinggal di mana?”

“Pelesiran, pak.”

“Kamu ke kampus naik apa?”

“Jalan kaki, pak.”

“Nah.. kalau kamu jalan kaki pasti kamu berusaha mengingat dan membuat tanda di jalan kan? Misalnya kalau sudah lihat rumah pagar merah, kamu belok kanan. Kalau kamu lihat rumah 3 tingkat kami belok kiri. Dan seterusnya. Iya kan?”

“Betul pak.”

“Itulah salah satu fungsi arsitektur. Coba kamu bayangkan, suatu pagi kamu bangun semua bangunan rata dengan tanah! Tidak ada lagi bangunan yang bisa kami jadikan tanda buat kamu berjalan ke kampus. Bagaimana, apakah kamu masih bisa menemukan jalan ke kampus?” Tanya di bapak sambil memandang saya tajam. 

Aduh.. kenapa harus dikejar-kejar sih pak, pikir saya hopeless.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya si Prof menanti jawaban.

“Semua bangunan hilang pak? Rata dengan tanah? Kecuali kampus dan rumahnya kost saya?”

“Iya,” jawab si Prof dengan wajah bangga. “Bagaimana kamu bisa menemukan jalan ke kampus? Pasti kamu bingung kan?”

“Ya lurus aja pak. Kan kampus nya kelihatan.. gak ada bangunan yang menghalangi lagi.” 😅😅

Si buram mata

Mata saya juga buram. Jadi kalau tidak pakai kacamata, saya tidak terlalu bisa lihat jauh, dan pada dasarnya memang saya tidak pintar mengenali muka orang.

Di lorong yang panjang di bagian barat kampus kita, suatu sore mulai remang, saya berjalan sendirian. Sebagai mahasiswi arsitektur yang baik tentu saja saya membawa si ‘bazoka’ alias tabung gambar.

Di kejauhan saya melihat dua orang berjalan ke arah saya… wah itu si INI dan si ITU! Pikir saya senang.

Dari jarak jauh saya langsung menyambut mereka, sambil mengarahkan bazoka ke dua orang yang tidak bersalah itu, saya menembak mereka. Dor dor dor dor dor dor dor dor dor – harap dimaklumi, jarak di antara kami masih panjang. Kira-kira 10 meter saya dor-dor dua orang itu.

Namun oh ternyata, ketika sudah dekat ternyata si INI dan si ITU bukanlah si INI dan si ITU! Ternyata saya gak kenal mereka! Oh malunyaaaaaaaaaa! Dan karena sudah keburu malu, apalagi yang bisa saya lakukan selain pura-pura gila beneran? Terpaksalah saya terus dor dor dor dor dor, sampai 10 meter selanjutnya…

Si sopan

Dulu saya kost di awal jalan Pelesiran, dekat dengan jalan Cihampelas yang penuh lagu dung dang ding dung. Hampir lebih seperti tinggal di dekat diskotik dibandingkan dekat pertokoan jeans.

Tiap hari saya harus berjalan kaki ke kampus, dan supaya jalannya agak singkat, dibandingkan jalan lewat Balubur saya selalu memotong jalan lewat gang-gang kecil di perkampungan Pelesiran. 

Di kampung ini banyak ibu, bapak, atau anak-anak duduk-duduk di depan rumahnya. Padahal gangnya sempit-sempit. Karena saya sopan (meskipun sering memalukan, tapi saya cukup sopan lho), saya selalu bilang “punten…” tiap lewat di depan mereka.

Di suatu siang yang panas, sambil mungkin teralih pikirannya antara memikirkan tugas kuliah dan kecengan, saya pun otomatis berkata, “Punten…..” (baca dengan logat Sunda ya). Begitu saya bilang punten dan lewat, barulah saya sadar, kalau saya baru permisi sama ayam… yang sedang enak-enak cari makan di tengah gang dan semua menyingkir dengan hikmat karena ada si gadis yang sopan bilang punten sama mereka 😀

Si hantu

Ada sebuah legenda, bahwa ada hantu di gedung jurusan kami. Alkisah adalah seorang mahasiswa, yang karena mau mengerjakan sesuatu masuk ke dalam ruangan bawah tanah gedung jurusan yang lama (sekarang sudah baru gedungnya). Waktu itu hari terakhir sebelum libur akhir tahun ajaran.

Karena pak satpam tidak tahu bahwa ada orang di situ, jadi pak satpam mengunci semua pintu termasuk ruangan dimana si mahasiswa masih bekerja. Kabarnya sang mahasiswa harus mengakhiri hidupnya dengan sangat tragis, karena tidak ada orang yang kembali ke kampus selama beberapa minggu, dan sejak itu, dia menjadi hantu di jurusan kami.

Suatu malam setelah selesai bekerja di studio, saya pulang ke rumah sendirian. Lalu ada teman yang lain pulang juga, bersama ‘saya‘. Waktu itu ‘saya’ bilang sama dia, kalau ‘saya’ mau ke toilet. Lalu si teman iyakan, dan dia menunggu lama di toilet tapi si ‘saya’ tidak kunjung datang. Tidak sabar dia menyusul ke dalam, dan ternyata…. Eng ing eng (musik seram), toiletnya kosong dong.

Keesokan harinya dia datang dan menepuk (menghantam tepatnya) punggung saya dan bertanya, “Kenapa kamu kemarin tiba2 ninggalin aku?”

Tentu saja saya bingung. Siapa yang meninggalkan siapa?

Ternyata di hari yang sama, ada sekelompok mahasiswa berkumpul di lobby membicarakan kegiatan himpunan. Si ‘saya’ datang ke sana dan ikut berbicara dengan mereka membahas tentang himpunan kami tercinta. Harusnya di sini saja mereka sudah harus curiga, karena saya memang anggota himpunan, tapi tidak pernah aktif apalagi ikut membahas-bahas.

Lalu si ‘saya’ pamit mau ke toilet, dan seperti kejadian pertama, ‘saya’ tidak balik lagi. Karena teman-teman ini cowok semua ya akhirnya mereka pikir mungkin ‘saya’ langsung pulang.

Akhirnya hari itu saya ditanya oleh si teman perempuan dan si teman lelaki ini, kemarin ke mana. Saya sampai bingung sibuk mengingat apa iya kemarin saya ada di lobby? Karena saya ingat sekali kemarin pulang agak cepat tidak ikut bergadang seperti biasanya.

Apa kalian yakin itu aku? Salah orang kali… Tanya saya kesal.

sayang fotonya kecil sekali, tapi si gundul itu saya, yang dipakai si hantu buat menyamar

Ya jelas elu! Siapa lagi cewek gundul kayak elu? Udah jelas-jelas kok itu kamu!

Oalah, jadi dari sekian banyak manusia, si *ITU* (nama si mahasiswa itu) ternyata memutuskan untuk menyamar jadi saya, satu-satunya cewek plontos di jurusan saat itu (atau mungkin selamanya hehehe). Kok ya bukan yang lain aja mas…

Alhasil cerita ini menyebar, dan dalam dua minggu setelahnya, setiap saya masuk ke dalam lift mau ke studio di lantai 4, semua orang memukuli saya pakai gulungan gambar untuk memastikan ini saya atau si ‘dia‘. Apes ya apes…

Kembali ngotot di akhir

Di akhir masa perkuliahan kami mendapatkan mata kuliah kewirausahaan alias entrepreneurship. Alkisah lulusan jurusan kami bisa lho tidak jadi arsitek saja, tapi bisa juga jadi bankir, birokrat, dan banyak lagi.

Sang dosen pun mengundang beberapa temannya untuk memberikan kuliah. Hari itu seorang bankir datang dan berusaha mencelikkan mata kami akan dunia yang sebentar lagi akan kami masuki sesudah lulus kuliah.

Entah kenapa si bankir terus-terusan melirik ke arah saya… Haduh saya sudah merasa risih sekali sampai teman di samping saya pun sudah bisik-bisik, kenapa bapaknya ngeliat ke kamu terus? Entah… jawab saya pusing.

Ternyata sama seperti di kuliah awal dulu, si bapak ini mengincar mau bertanya kepada saya. Oh apes ya apes, apa muka saya tipikal muka yang mengundang untuk ditanyai kah?

“Kamu, yang di situ? Siapa nama kamu?”

“Anu, pak” (Blog ini anonim jadi tolong dipahami, nama asli saya bukan Anu!)

“Kalau kamu ditanya orang, apakah definisi seorang arsitek, apakah jawab kamu?”

Aduh… paling mules deh kalau ditanya definisi. Mana jaman itu belum ada smartphone dan oom Wikipedia… 

“Misalnya,” lanjut si bapak bankir. “Kamu ditanya sama keponakan kamu yang berumur lima tahun – tante, tante itu kan arsitek. Kerjaannya ngapain sih?”

“Oh, saya akan jawab Tante kerjanya membuat rumah orang, nak.” jawab saya lega. Jawaban untuk anak lima tahun mah gampil!

“Masak segitu aja definisi seorang arsitek?” tanya si bapak.

“Kan yang nanya anak kecil pak, saya jelaskan panjang lebar juga dia nggak ngerti.” jawab saya.

“Oh iya, benar juga.” tawa si bapak sambil makin intens memandang mata saya. “Coba deh kalau gitu,” lanjutnya. “Kalau kamu punya pacar anak U*P*D, tanya sama kamu, say, apa sih kerjaan seorang arsitek?”

Haduh… si bapak masih ngotot aja. Sambil menarik nafas dalam-dalam, saya menjawab dengan khidmat, “Maaf pak, saya nggak mau pacaran sama anak U*P*D*.”

Si bapak mulai terbahak. “Kenapa gak mau? Karena cerita saya tadi?” (dia baru saja bikin joke tentang universitas tersebut).

“Bukan pak. Pokoknya saya nggak mau aja pacaran sama anak U*P*D.” jawab saya ngotot.

“Oke deh. Saya ganti lagi pertanyaannya,” lanjut si bapak masih tetap gak mau kalah. “Kalau ada teman kamu, mahasiswa jurusan Sipil tingkat 4 sekolah kita. Bertanya sama kamu, apa sih arsitektur itu? Kamu akan jawab apa?”

Hadeh pak… gak bisa kah dikau membebaskan daku dari siksaan ini?

“Kalau ada anak Sipil tingkat IV nanya gitu ke saya, akan saya jawab begini pak: Kamu ini jurusan SIPIL *TB, sudah tingkat IV, kok ya bisa arti arsitektur aja tidak tahu!”

Huahahhahaha… meledak semua ketawa, dan si bapak bankir pun ikut ngakak, sambil mengakui kekalahannya dan paham kalau pada dasarnya saya nggak mau menjawab pertanyaan beliau 😀

Teman-teman saya pun mengerumuni saya setelahnya, “Gila kamu! Berani banget jawabin bapaknya! Dan si bapak juga ngeliatin kamu terus.. Naksir kali! Hahhaha.. Ayo deketin aja si bapak, siapa tahu kamu bisa ngelamar di bank dia.”

Saya pun melengos dan meninggalkan ruangan, dengan si bapak yang masih dikerumuni para mahasiswa sambil melirik-lirik saya.

The unexpected closure – biggest joke in my life!

Buat saya, masa di kampus adalah waktu yang penuh dengan pelajaran. Bukan hanya soal akademis, tetapi juga belajar tentang kehidupan. Berpuluh tahun kemudian, ternyata saya tidak lagi berprofesi seperti apa yang saya pelajari dulu di sana. Apakah kuliah saya menjadi sia-sia? Tidak juga, karena mungkin kalau tidak ke Bandung, saya tidak akan menemukan the closure: the real joke of my writing today…

Di akhir TPB, saya harus ikut semester pendek. Di suatu siang yang panas, saya sedang duduk-duduk di lapangan basket bersama seorang teman. Ada seorang senior saya di SMA yang datang ke lapangan bersama temannya, seorang pemuda. Dengan antusias, saya menyapa si senior yang sudah lama tidak bertemu, dan bertanya pada si pemuda pendiam, “Hallo, bang, namanya siapa?”

Selain aneh dan bermata buram, saya memang seorang yang sangat ramah dan periang. Saya tidak segan untuk mengajak orang berkenalan duluan. Meskipun itu dulu ya. Kehidupan yang keras sudah banyak menghilangkan keriangan saya, meskipun sampai sekarang saya tetap aneh. Dan makin buram matanya.

Si pemuda itu tampak agak terpana disapa begitu tiba-tiba. Ternyata hal itu sangat berkesan untuknya. Dalam hati dia bilang- aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.

Besoknya dia menelpon saya di kost. Dan di sebuah hari Sabtu, hanya selang tiga hari setelah pertemuan pertama kami, dia pun bertandang.

Harap dimengerti, saya memang ramah, sopan, dan periang. Tapi saya tidak cantik. Sangat tidak cantik. Saya bukan tipe gadis-gadis yang punya banyak penggemar. Bukan tipe bunga yang didatangi kumbang-kumbang.

Karena itu saya jadi agak ketakutan dengan si pemuda ini. Kok bisa sih belum betul-betul kenal langsung telepon-telepon dan tiap Sabtu datang? Begitu besarnya rasa takut dan terganggu, setelah beberapa bulan, sebelum dia bahkan masuk ke pintu, saya meminta dia untuk pulang… dan tolong jangan pernah kembali lagi (pakai background musik sedih).

Belasan tahun kemudian, saya sedang jadi TKW di negara tetangga. Saya jatuh sakit dan sakitnya cukup serius, sampai-sampai saya diangkut ambulans malam-malam secara dramatis, dari lantai 4 apartemen tanpa menggunakan lift.

Setelah saya sembuh, saya berpikir banyak tentang yah… hidup, tentang Tuhan dan segalanya. Lalu saya ingat, mungkin ada dulu kesalahan yang pernah saya lakukan ke orang yang belum diluruskan. Tiba-tiba saya ingat nama si pemuda ini, yang entah kenapa meski kami tidak pernah bertemu lagi namanya tetap lengket di ingatan.

Setelah mencari-cari karena beliau tidak punya sosmed dan entah ada dimana, saya mendapat alamat emailnya dari seorang teman jurusannya. Ternyata dia merantau di benua Eropa. Dengan modal keberanian dan semangat dari seorang cheerleader berinisial RN yang juga anggota MGN :D, saya menulis surat dan minta maaf pada dia.

Mungkin inilah joke yang paling ‘lucu’ di dalam kehidupan saya sebagai mantan anak *TB. Sebulan kami saling beremail antara dua negara, kami pun bertemu langsung di Indonesia. Enam bulan kemudian kami bersanding di pelaminan. Saya ikut merantau ke Eropa, kali ini bukan jalur studi atau karir, tapi jalur cinta.

Oalah mBang, kalau tahu kamu jodohku, gak usah aku suruh pulang kamu malam itu!

thirteen years later, and we’re together. Kartu ulangtahun yang di kirim si pemuda, 13 tahun berselang, cinta pada pandangan pertama jadi cinta untuk selamanya. Cieeeeeehhhh 😀

And the twist of this story?? Nama anak pertama kami, ternyata sama dengan nama hantu yang ada di gedung jurusan yang menyamar jadi saya malam itu 🙈. Sungguh saya baru tahu sekarang karena saya juga beneran sudah lupa siapa nama hantunya. Ternyata puluhan tahun kemudian, saya memberi nama itu untuk anak pertama.

Penutup

Hidup ini penuh dengan cerita. Ada yang manis, ada yang pahit. Ada yang senang, ada yang susah. Kadang sulit melihat apa lucunya kalau kita sedang melalui sebuah kesulitan. Tapi jangan kuatir teman, belasan tahun dari sekarang, mungkin yang sekarang kita anggap derita, ternyata ada terselip cerita suka di antaranya.

Peluk dan doa buat Indonesia yang sedang bertarung melawan Corona. Semoga cerita 2000 kata ini bisa sedikit menghibur teman-teman di sana. Tuhan menyertai kita semua!

14 comments

  1. Hahahaha paling dalem yg pura2 gila pake tabung bazoka :)))
    twist ketemu suami juga unik ya, udh pernah ditulis soal gimana ketemu suaminya teh? mau baca :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s