Hello Ghost: Film (tidak) Horror tentang Keluarga

Tantangan MGN: film yang bercerita tentang keluarga

Halo semua, hari ini saya ingin berbagi tulisan tentang sebuah film yang bercerita tentang keluarga, sesuai dengan tema tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Juni 2021.

Buat hampir semua umat manusia, keluarga adalah unit yang paling penting dan merupakan tempat dimana kita semua mengawali perjalanan kehidupan kita. Lahir dari seorang ibu dan ayah, dibesarkan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa, dan kemudian mungkin memutuskan untuk berkeluarga.

Tema keluarga adalah tema yang populer, disamping tema tentang cinta untuk dijadikan cerita dalam bentuk buku atau film. Mungkin ini disebabkan karena – tidak seperti tema super hero yang asyik ditonton tapi tidak applicable di kehidupan nyata – kita bisa relate di saat kita menonton film bertema keluarga ini. Kisahnya dan detailnya banyak yang sangat mirip dengan kehidupan kita sehari-hari.

Naluri untuk berkeluarga adalah naluri alami, yang saya percaya diberikan Tuhan yang Mahakuasa di dalam hati setiap manusia. Naluri untuk mengarungi hidup bersama, memiliki keturunan dan membesarkan anak-anak. Hal-hal ini tampak sebagai sesuatu yang alami dan “memang seharusnya terjadi”. Tetapi sesungguhnya, memiliki keluarga adalah sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Hello Ghost: seorang pemuda yang merindukan keluarga

Hello Ghost

Film bergenre komedi ini bercerita tentang kehidupan seorang pemuda bernama Sang Man. Sang Man adalah seorang yatim piatu, dibesarkan di panti asuhan tanpa tahu siapa ayah ibunya. Dia hidup tanpa keluarga sampai masa dewasanya.

Film ini dimulai dengan usaha Sang Man (Cha Tae-Hyun) untuk bunuh diri karena merasa muak dengan kesendirian. Berulang kali Sang Man berusaha mengakhiri hidupnya dan selalu gagal. Kali ini dia gagal lagi dan bangun menemukan dirinya dirawat di sebuah rumah sakit. Tetapi kali ini ada yang berbeda – ternyata Sang Man sempat mati beberapa menit. Kematian sesaatnya ini memberi dia kemampuan melihat hantu.

Di rumah sakit ini Sang Man memulai hidup barunya: hidup bersama empat hantu yang memutuskan untuk berbagi badan dengan Sang Man untuk dapat mewujudkan harapan terakhir mereka yang belum sempat dilakukan sebelum mereka meninggal. Di rumah sakit ini juga Sang Man bertemu dengan Jung Yun Soo (Gang Ye-Won), seorang suster yang baik hati, yang kemudian membuat Sang Man jatuh hati.

Menjemput mimpi terakhir

Sang Man sembuh dan pulang ke rumah dengan beban baru di dalam hidupnya. Hidupnya berubah, dia tidak lagi bisa mati sebelum dia memenuhi keinginan empat hantu ini. The Quest has just begun!

Berbagi badan bersama empat hantu dengan keinginannya dan sifatnya masing-masing, Sang Man harus menjalani petualangan yang aneh dan juga menyebalkan: kakek yang minta sebuah kamera lama, bapak yang ingin naik mobil tertentu, anak kecil yang ingin menonton film dan pergi ke pasar malam, ibu yang ingin makan malam bersama.

si hantu anak memenangkan permen raksasa di pasar malam. Tebak siapa yang harus menghabiskan?

Keempat hantu ini menguasai hidup Sang Man, memaksa dia melakukan hal-hal di luar kebiasaannya: merokok, minum, makan permen raksasa. Tetapi lama kelamaan Sang Man pun mulai menikmati kebersamaan bersama “teman-teman” barunya ini.

Jatuh cinta dan merumuskan arti keluarga

Film ini juga bercerita tentang perjalanan cinta Sang Man dan Yun Soo. Sang Man yang merindukan sebuah keluarga, dan Yun Soo yang pernah tersakiti dan tidak percaya lagi dengan arti sebuah keluarga.

“I wanted to hear your heartbeat.”

Melalui hubungan mereka, Sang Man dan Yun-Soo sama-sama mengalami ‘healing’ dari trauma mereka dan belajar kembali arti sebuah keluarga. Yun-Soo yang bermusuhan dengan ayahnya akhirnya bisa memaafkan setelah Sang Man membantu dia dengan menyampaikan pesan dari ayahnya yang sudah meninggal.

Happy ending

Film ini diawali dengan Sang Man yang ingin mengakhiri hidup karena kesepian dan depresi. Hidup bersama empat hantu membuat hidupnya berubah, dia menjadi memiliki sebuah tujuan: membuat hantu-hantu itu pergi dengan cara mewujudkan keinginan mereka.

Tetapi di akhir film, dia belajar bahwa keinginan sang hantu yang nyeleneh itu sebenarnya bermakna sangat dalam. Hantu-hantu yang dirasa Sang Man sebagai beban dan pengganggu sebenarnya punya tujuan: dengan merepotkan Sang Man dengan keinginan mereka, mereka sedang mencegah Sang Man bunuh diri.

Di akhir cerita Sang Man akhirnya berhasil mengabulkan permintaan setiap hantu, lalu mengusir mereka dari rumahnya. Tiba-tiba, karena dipicu sebuah komentar, Sang Man bisa mengingat semua hal yang dia lupakan selama ini. Ternyata Sang Man pernah mengalami kecelakaan mobil sewaktu dia kecil, trauma membuat dia melupakan semua hal di masa lalunya. 

Dan si hantu-hantu itu? Siapakah mereka? Apakah mereka hantu biasa? Tonton sendiri ya filmnya, yang jelas akhirnya Sang Man menemukan kembali keluarga yang selama ini dia rindukan, sekaligus dia membentuk keluarga impiannya dengan suster Yun-Soo. ❤

Pemeran dan sambutan publik

Film produksi Korea Selatan ini diluncurkan di akhir tahun 2010, oleh sutradara bernama Kim Young-Tak. Pemeran utamanya adalah aktor kawakan Cha Tae-Hyun, yang ngetop dalam film lainnya; My Sassy Girl.

Cha Tae-Hyun membintangi film ini bersama Kang Ye-Won, Moon-su Lee, Young-nam Jang, Ko Chang-seok dan Bo-geun Cheon.

Film ini memenangkan penghargaan “Best New Director” di ajang 47th Baeksang Arts Awards, dan dinominasikan untuk enam penghargaan lainnya.

Dikabarkan juga kalau Hollywood sudah membeli hak cipta untuk bisa membuat remake-nya, yang akan diperankan oleh Adam Sandler. Sayangnya rencana ini belum terwujud sampai sekarang.

Sepertinya Hollywood akan didahului oleh Indonesia, yang juga kabarnya akan membuat remake film ini, diperankan salah satunya oleh Indro Warkop. Keterangan lebih lanjutnya bisa dibaca di sini.

Kesan dan Pesan

Meskipun bercerita tentang hantu, film ini jauh dari kesan menyeramkan. Saya pribadi tidak nge-fans dengan film berhantu. Sewaktu kami baru menikah, suami saya mengajak saya menonton film ini dan ternyata pilihannya tidak mengewakan.

Film ini alurnya agak lambat, tapi memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan dan keluarga. Di akhir film kita akan bertemu dengan banyak kejutan, yang menguras banyak air mata, tapi juga mengingatkan kita akan pentingnya arti keluarga.

Keluarga: beban atau pemberi makna hidup?

“In this world when no one remembers me, I’m sick of it.” ~Sang Man

Sang Man muak dengan kesendiriannya. Sementara saya, kadang frustasi dengan suara anak-anak yang tidak berhenti memanggil, “mama! Mama!”

We so often take our family for granted. Kita sering melihat keluarga sebagai beban, dan anggota-anggotanya dengan permintaan yang segudang sebagai sebuah batasan atau bahkan hambatan untuk bisa berkembang.

Tetapi untuk banyak orang yang tidak seberuntung kita, keluarga memberikan mereka tujuan hidup. Alasan untuk terus berjuang. Permintaan dan kebutuhan mereka membuat mereka terus berjalan. Karena tanpa keluarga, tanpa orang yang memanggil dan mengingat kita, sesungguhnya hidup terasa sangat hampa dan kehilangan makna.

Hargai keluargamu, nikmati keberadaan mereka

Semua anggota keluarga, baik itu ayah, ibu, adik/kakak maupun anak atau kakek nenek dan saudara jauh; memiliki tempat yang khusus di dalam kehidupan kita. Sesungguhnya kehidupan mereka (dan kita) tidaklah abadi. Kebersamaan dengan keluarga bukanlah sesuatu yang unlimited, tetapi merupakan suatu kesempatan yang ada batasnya.

Kehidupan Sang Man mengingatkan saya betapa berharganya sebuah keluarga. Dan juga kepada betapa memilukannya hidup sendirian tanpa seseorang yang mengenal dan mencintai kita.

Hal ini membuat kita untuk kembali mengingat orangtua atau anggota keluarga yang lain yang mungkin tinggal sendirian atau jauh daripada kita. Mereka pun bisa jadi setiap hari berjuang untuk mengatasi rasa kesepian, atau rasa hampa di dalam hidup mereka. Mungkin sama seperti Sang Man, mereka pun seperti tidak memiliki tujuan hidup lagi.

Apalagi di dalam masa pandemi seperti ini, ketika yang merantau tidak punya kesempatan untuk pulang kampung, dan kumpul keluarga tidak lagi menjadi sesuatu yang mudah dan normal.

Mari angkat telepon dan menyapa dengan mereka. Mari mengirim email dan bercerita kepada mereka. Mari ingatkan mereka kalau mereka tidak sendirian, dan masih punya kita.

Mari kita menghargai keluarga yang kita miliki hari ini. Mari kita menikmati ‘beban’ yang kita pikul bersama mereka saat ini. Yang membuat hari kita berat, sebenarnya membuat hidup kita bertambah nilainya.

Afternote: Tulisan ini menang lho, juara ketiga tantangan MGN bulan Juni 2021. Cihuy!

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s